11 June 2018
The Watch Co. Interviews : KROMA

Simak obrolan kami dengan KROMA di sini!

KROMA merupakan sebuah coffee shop yang terletak di Panglima Polim, Jakarta Selatan yang mengusung sebuah moto #betahdirumah, memposisikan coffee shop mereka bagaikan sebuah rumah bagi para pengunjunganya untuk melepas lelah, bersantai, dan melakukan kegiatan yang produktif.

 

Pada edisi kedua dari The Watch Co. Interviews ini, kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan ketiga peran utama di balik KROMA.

 


Halo, boleh perkenalkan diri kalian masing-maisng dan perannya apa di KROMA?

Halo nama gue edward, gue di sini sebagai  head of Kaffe.

Halo nama gue Dinar, gue di sini sebagai head of Kijen.

Halo gue Evelyn, gue di sini sebagai head of Kiosk dan Klass

 

Apa itu KROMA?

Singkatnya tuh KROMA sebenernya sebuah coffee shop yang mewadahi kreatifitas anak muda sekarang ini. 

 

Apa arti dari KROMA?

KROMA itu diambil dari kata kromatin, yang artinya sebuah sel yang mudah sekali menyerap warna. Kenapa kami memilih nama ini, karena seperti yang tadi sudah dijelaskan oleh Edward jadi kami ingin mewadahi temen-temen yang punya ide kreatif yang ingin berkegiatan produktif dan itu bisa dilakukan di sini.

 

Apa saja yang ada di KROMA?

Jadi kan KROMA terdiri dari dua lantai. Di lantai satu ada KROMA kaffe dan kijen. Nah di sini kita berniat untuk menyuguhi tamu-tamu yang dateng dengan makanan dan minuman yang khas dari rumah kami. Sedangkan kalau di lantai dua jadi wadah untuk kreatifitas temen-temen di KROMA.

 

Perbedaan KROMA dulu dan sekarang?

Kalo dari lokasinya sendiri ya jelas berbeda karena sebelumnya di Gandaria dan sekarang di Panglima Polim. Terus yang paling signifikan itu dari luas tempat, di sini jauh lebih luas. Karena di sini lebih luas, jelas kami jadi bisa menampung ide lebih banyak lagi.

 

Awal mula KROMA terbentuk?

jadi, kalau misalkan flashback ke awal mula banget, KROMA itu sebenernya bentuknya produk. Nah terus karena mimpinya belum luntur untuk punya tempat nongkrong sendiri, yaudah akhirnya setelah gue lulus kuliah, gue dan Evelyn ngerasa oke kita lanjutin nih kayanya bisa nih punya coffee shop.

 

Tantangan terberat selama menjalankan KROMA?

Tantangan terberatnya adalah ketika kami berdua backgroundnya ga ada yang di FnB, gimana sih caranya bikin orang tertarik sama apa yang kami sajikan. Itu sebenernya yang cukup berat. Terus sampai bisa bangun massa sendiri trus orang-orang mulai berdatangan. Nah itu sebenarnya yang paling sulit. Karena kan membuat costumer itu balik lagi dan balik lagi karena nyaman karena produknya pun itu juga sulit.

 

Apa perbedaan KROMA dengan coffee shop lainnya?

Kalo misalkan ngomongin secara beda banget ya there is nothing new under the sun lah, cuman kami sih selalu berupaya untuk membuat orang senyaman itu di sini dan balik lagi kami ingin menampung ide-ide kreatif dari temen-temen dan kaminya sendiri pun ga pernah berhenti untuk membuat acara, membuat kegiatan di sini untuk berkolaborasi dengan teman-teman lainnya, supaya tetap produktif.

 

Tips untuk membuat coffee shop seperti KROMA?

Kalo dari gue sih tips untuk menjalankan sebuah bisnis adalah mencari dan mendapatkan partner yang tepat, kalo buat gue. Tapi mungkin dipelajari dulu maunya seperti apa, terus kira-kira 3-5 tahun kedepan proyeksinya mau jadi apa, apa yang akan dilakukan kedepan itu harus dipikirin matang-matang. 

Dan yang pasti harus sesuai dengan passionnya juga sih. Dan yang paling penting banget tuh dukungan dari partner dan semangatnya tetap ada sih.

 

Peran waktu bagi kalian dalam menjalankan KROMA?

Sebenernya ga cuma di coffee shop yah, peran waktu itu cukup penting. Tapi, ketika kita mulai memikirkan untuk menjalankan bisnis ya semua itu harus terencana dengan baik, karena kalau misalnya ada satu hal yang akhirnya menghambat, akan mengakibatkan efek domino. Misalnya gue pas ngerjain projeknya telat, akhirnya mengganggu kerjaan Edward dan Dinar dan akan keulang teru-terusan. Lalu timeline yang sudah disiapin untuk beberapa bulan kedepan bahkan satu tahun kedepan jadi harus mundur.